Rabu, 27 September 2017



Rumah masa depan

Kelak tanah,
Yang menuntun mu jauh dari apa yang terpikir saat ini..
Dia pula yang banyak mengubur cita-cita mu saat tak dapat kau raih,
Dan dia pula yang sebenarnya membuat mu melangkah untuk meraih itu..

Masa perasingan dan masa per keramaian ini harus kau tinggalkan,
Kau hanya cukup membuat lubang yang seukuran dengan badan mu,
Kau hanya harus menunggu lubang itu,
Dan kau hanya harus persiapkan pertanyaan nya nanti kelak..

Tak perlu jauh-jauh darinya,
Tak perlu pula banyak mengelak dari nya,
Sebab dia sedang mengejarmu,
Menunggu waktu yang tepat untuk saling bersandar pada pilihan..
Surga dan neraka kata banyak manusia seperti itu..

Di lubang tadi kamu hanya perlu berlabuh,
Menjawab dan mengobral semua hidup..
Di tempat itu pula, rumah terakhir dari setiap persinggahan mu menuju Tuhan..
28 Sept 2017’



Siapakah kita ini,


Siap kah kita di seret-seret waktu..
Siapkah kita di lempar-lempar harapan..
Siapkah kita di kutuk para pengutuk..
Dan siapkah kita di paksa menunduk..
Bertahanlah, kita tau siapakh kita ini

Tapi apakah kita harus banyak berkunjung mesra,
Pada ujung yang sebenarnya berarah..
Hanya angin yang kadang berputar arah..
Bertahan kah kita ini menjadi manusia..
Padahal siapakah kita ini..?

Banyak di tikam –tikam rasa..
Banyak di tuduh-tuduh sifat..
Banyak di pukul mundur aturan..
Dan bisakah kita bertahan,
Siapakah kita ini..”

Gusar ..
Bebal..
Pulang ..
Namun waktu, jarak dan arah..
Belum mau, kembali..
Karna siapakah kita ini..?

14 Agustus 2017


Kamar Sakit
Tumpukan buku ini,
Membuat aku sadar aku telah banyak kalah..
Dunia seperti meluas dan menjauh
Aku terlalu asik dengan penuh keseriusan dalam meratapi sebuah penghidupan..

Tanpa ku sadari aku kalah..
Aku banyak kalah”
Dan aku telah kalah

Oleh mereka yang berjiwa baja masih mau berjalan, meski banyak di tinggalkan keramaian..”

11 Agustus 2017


AYAH MALAM ITU

Bersabarlah Yah,
Aku pasti pulang dari tempat ini,
Hari sudah malam pula,
Ku tahu bukan soal rumah atau kesehatan ku
Kau hanya sedikit rindu saja untukl bersepi dan sendiri,
Menulis malam-malam dengan keresahan..

                Sejak semua berubah dan kita bertambah dewasa,
                Sejak hidup tak tau lagi arti prasasti dan kebersamaan,
                Sejak orang banyak melupai benda-benda lama, kenangan-kenangan dan masa lalu,
                Yang sekarang kita banyak merawatnya,

Kita sama,
Sama-sama merindukan malam dengan dendang tua,
Kala itu kau bermain gitar dan,
Mamah bernyanyi mesra di samping mu..
Kala itu kita banyak tertawa tanpa perlu  cemas esok makan apa..
17, September 2017

Sahabat tanjakan untuk Sekar



SAHABAT TANJAKAN UNTUK SEKAR

Bolehkah kita berharap dan berdoa pada Tuhan tentang sebuah perulangan..
Bukan menginginkan masa itu kembali seperti dulu,
Tapi lebih kepada kau dan aku kini mencoba bertemu
Tak banyak memang pengharapan untuk itu;
tentang sebuah kisah-kasih
atau tentang sebuah taman yang di payungi cemara dan pinus tua
atau bisa jadi tentang tawa kita pada saat perjalanan
mungkin lebih kepada tatapan kosong
yang manginginkan kau yang menggenggam tangan ku pada sebuah tanjakan terjal di depan..

Lalu benar apa kata filsuf saat ku pulang ke rumah,
Ternyata rindu namanya..
Bahkan tak ku hiraukan saat banyak tatap yang ku bidik pada sebuah foto di telpon genggam ..
Kala itu yang ku lihat tawa mu dan tawaku beradu menjadi sebuah kenangan yang paling meng-istimewakan..

Yakin saja,
Dan berdoa saja..
Kelak perjumpaan kita  di sebuah tanah yang tinggi nya tak seperti saat kita berjumpa ..
Akan ada festival hati, dimana rindu itu bicara dan hati kita saling menyapa..
Meski sebagai sahabat perjalanan di sebuah tanjakan..”

D’ lupus


12 sept 2017

Rabu, 12 April 2017

AKU , KAU DAN WAKTU

Masihkah kita akan berdiskusi dengan banyak hati yang begitu sangat menemani
Dengan senyum saja rasanya tak pernah terpuaskan..

Jika hati yang terpaut menaruh benci apakah harus di persalahkan,
apakah harus di acuhkan atau
apakah harus menamai diri sang pengecut..

lalu apakah dengan itu hati nya akan mengerti tentang sebuah keadaan..
hatinya akan mengerti soal waktu, soal rindu yang memang benar di persulit..

lalu siapa yang harus disalahkan..
 Aku, Kau atau Waktu...

Mengertilah tuhan menaruh rindu pada cinta agar kita merasakan sakit sebelum bahagia..
atau dengan istilah lain puncak ada setelah perjuangan..

Masihkah kau akan menyalahkan ku, atau menyalahkan waktu..
tanpa befikir apa yg juga harus kau ubah dalam dirimu..

aku begini dan kau, begitu..
lalu waktu tak pernah mengenal kita..